MOHAMMAD
HATTA
Mohammad Hatta dilahirkan pada tanggal 12
Agustus 1902 dengan nama asli Mohammad ‘Athar. Dalam panggilan sehari-hari kata
‘Athar diucapkan
Atta. Lama-kelamaan berubah menjadi Hatta. Moh. Hatta adalah
anak kedua dari H. Mohammad Jamil dan Siti Saleha. Ketika kecil Moh. Hatta
telah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika Moh. Hatta berumur
tujuh tahun.
Moh.
Hatta adalah seorang yang rajin belajar dan pandai. Sebelum Moh. Hatta bersekolah ia sudah bisa membaca dan menulis. Awalnya
ia bersekolah di sekolah swasta. Setelah tamat dia bersekolah di Sekolah
Rakyat. Tiga tahun Moh. Hatta bersekolah di Sekolah Rakyat lalu ia pindah ke
sekolah Belanda, yaitu Europese Lagere
School (ELS). Kemudian Moh. Hatta bersekolah di MULO Padang. Lulus dari
MULO ia belajar di Jakarta yaitu di Prins
Hendrik School. Tahun 1921 Moh. Hatta lulus lalu ia melanjutkan sekolah di
Belanda, Moh. Hatta kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi. Sebenarnya Moh. Hatta
dapat berkuliah selama beberapa tahun saja tetapi karena ia pindah jurusan dari
ekonomi perdagangan menjadi ekonomi kenegaraan ia jadi tinggal di Belanda
semala sebelas tahun.
Moh.
Hatta sering mengikuti kegiatan organisasi. Organisasi-organisasi yang pernah
diikutinya antara lain: Jong Sumatranen
Bond (JSB) cabang Padang dan Pusat, Perhimpunan Indonesia (PI), dan
Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Hampir disemua organisasi tersebut
Moh. Hatta menjadi berdahara. Pernah juga ia memimpin PI dan PNI Baru.
Pada
tanggal 25 Januari 1934 Moh. Hatta ditangkap oleh Belanda. Ia ditahan di Kantor
Besar Polisi, lalu ia dipindahkan ke penjara Glodok. Di penjara Glodok Moh.
Hatta disuruh tidur dilantai. Setelah beberapa hari di Glodok ia dibuang ke
Digul, Irian Jaya. Pada bulan Februari 1937 Moh. Hatta dipindahkan ke Banda
Naira. Setelah lima tahun lamanya Moh. Hatta tinggal di Banda Naira lalu dia dipindahkan
ke Sukabumi.
Setelah
Belanda menyerah kepada Jepang dan Jepang telah menguasai Indonesia Moh. Hatta
ditawari untuk menjadi pegawai pemerintah, tetapi ia tidak mau ia hanya mau
menjadi penasihat. Moh. Hatta menggunakan kedudukannya tersebut untuk membela
kepentingan rakyat bukan untuk membantu Jepang. Selain menjadi penasihat Moh.
Hatta juga menjadi direktur jendral Pusat Tenaga Rakyat (Putera).
Pada
tanggal 8 Agustus 1945 Moh. Hatta, Ir. Soekarno dan dr. Rajiman pergi ke Dalat.
Mereka diundang oleh Marsekal Terauchi. Pada tanggal 12 Agustus 1945 Terauchi
mengatakan bahwa Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada
Indonesia yang akan diumumkan setelah persiapan selesai. Pada hari itu Moh.
Hatta genap berusia 43 tahun. Moh. Hatta gembira mendengar kata-kata Terauchi,
ini dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun.
Setelah
Jepang menyatakan menyerah para pemuda mendesak agar segera diproklamasikan
kemerdekaan, tetapi Moh. Hatta dan Ir. Soekarno berpendapat bahwa PPKI harus
melakukan rapat terlebih daluhu. Para pemuda tetap ingin segera kemerdekaan
diproklamasikan. Kerena Ir. Soekarno dan Moh. Hatta tetap monolak maka beberapa
pemuda membawa Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Lalu mereka
dibawa kembali ke Jakarta tanggal 16 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB. Malam itu
juga mereka mengadakan rapat untuk membahas kemerdekaan di rumah Laksamana
Maeda hingga pukul 03.00 WIB. Tanggal 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 WIB
naskah proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno, Moh. Hatta berdiri disampingnya.
Indonesia
telah merdeka, tetapi perjuangan Moh. Hatta tidak berhenti sampai disini,
setelah merdeka Moh. Hatta mengemban tugas yang lebih berat. Beliau dipilih
menjadi wakil presiden. Setelah RIS dibentuk Moh. Hatta menjadi perdana menteri.
Pada sidang DPRS tanggal 14 Oktober 1950, Moh. Hatta diangkat menjadi wakil presiden.
Antara
Ir. Soekarno dan Moh. Hatta timbul perbedaan pendapat. Perbedaan diantara
mereka semakin lama semakin membesar. Akhirnya Moh. Hatta mengundurkan diri
dari pemerintahan. Tanggal 20 Juli ia mengirimkan surat kepada DPRS. Tembusan
surat tersebut dikirimkannya kepada Presiden Soekarno dan Dewan Menteri. Penggalan
surat itu berbunyi sebagai berikut:
“Bersama ini saya beri tahukan dengan
hormat, bahwa sekarang setelah DPR yang dipilih oleh rakyat mulai bekerja dan
konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi
saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden ...”
Diusianya yang sudah lanjut tanggal 3
Maret 1980 Moh. Hatta dirawat dirumah sakit. Tanggal 14 Maret 1980 Moh. Hatta
menutup mata untuk selama lamanya ia meninggal dunia diusia 78 tahun.
Cerita diatas saya ringkas dari buku yang berjudul Moh. Hatta, maaf jika banyak kata yang kurang tepat atau salah penulisannya. Semoga Bermanfaat :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar